Menjadi Guru tak Menghalangi Usaha Untuk Menjadi Pengusaha Sukses

  • Bagikan

Tuntutan perekonomian memaksa setiap kalangan untuk memilih terjun berwirausaha. Namun untuk memulai sebagai wiarusahawan tak selalu berjalan mulus, ada beberapa tantangan dan pertanyaan yang harus di jawab seperti misalnya dari segi modal, konsep dan berbagai hal yang fundamental dalam memulai sebuah usaha.

Modal yang tinggi, manajemen resiko, konsep yang matang, orientasi hasil yang tidak jelas dan berbagai faktor lainnya yang menjadi kendala, hal semacam ini yang sering menjadi batu penghambat bagi sebagian kalangan untuk memulai dan akhirnya yang membuat mereka lepas tangan atau menyerah terlebih dahulu sebelum memulai usaha.

Untuk mencapai tujuan yang besar diawali dari langkah yang kecil terlebih dahulu, beberapa pemilik usaha yang sudah besar sekarang ini memulai usaha dari tempat yang kecil dengan modal yang sederhana. Bahkan sebagian besar memulai usaha dari nol.

Memang ada beberapa resiko yang akan dihadapi di awal membangun sebuah usaha.

Akan tetapi dengan kerja keras, kreatif, inovatif dan konsistensi bisa menjadi faktor perkembangan sebuah usaha dan akan terus meningkat seperti yang dirasakan oleh Muhammad Abdul Latif, seorang pemilik bakso bakar yang berada di desa ungga, kecamatan praya barat daya, tepatnya di samping jalan raya desa ungga-darek.

Muhammad Abdul Latif atau yang akrab disapa bang Latif merupakan seorang guru honorer di salah satu SMK di kecamatan Praya Barat Daya dan sekaligus sebagai kepala rumah tangga.

Sembari tetap mengabdi di dunia pendidikian, bapak dari dua anak ini memulai usahanya dari awal tahun 2018 sampai sekarang.

Bang Latif memulai usahanya dengan berjualan bakso bakar di sela-sela kesibukannya sebagai seorang tenaga pengajar.

Dia membuka lapak bakso bakar dan sosis bakar yang terbilang baru dan pertama kali di desa ungga, sebelum banyak penjual-penjual lain yang mengikuti jejaknya.

Pria yang akrab disapa bang Latif ini sudah menjadi guru pendidikan seni budaya sejak 2016.

Pekerjaannya dia tekuni sebelum menikah. Gaji yang pertamakali dia terima sebagai guru yaitu Rp 100.000.

Karena kebutuhan eknomi yang meningkat setelah mempunyai anak, dia pun menekuni usaha bakso bakarnya. Usaha bakso bakar ini dia tekuni untuk menunjang kebetuhan hidup sehari-hari.

Diawal mulai berjualan bersama sang istri, bang Latif tidak menyangka bahwa akan begitu banyak peminat bakso bakarnya, dihari pertama bang Latif menjual habis 50 tusuk bakso bakar dan 100 tusuk sosis bakar. 1 tusuk bakso bakar dibandrol dengan harga Rp 5000 dan 3 tusuk sosis bakar di bnadrol dengan harga Rp 5000 pula, total yang dihaslkan bang Latif bisa mencapai Rp 500.000 dihari pertamanya.

“awalnya saya tidak menyangka akan begitu banya peminat bakso bakar dan sosis bakar di desa saya, bukan hanya anak kecil aja bahkan orang dewasa pun tueut ikut mencicipi bakso dan sosis bakar yang saya jajankan” ujar, bang Latif.
Warung bakso bakar bang Latif buka dari jam 8:00 sampai jam 20:00.

Dipagi hari bang Latif pergi menjalankan kewajiabnnya sebagai tenaga pengajar, otomatis sang istri menggantikannya berjualan.

Usaha bang Latif kini terus berkembang, tidak hanya menjajan bakso bakar dan sosis bakar saja, tetapi bang Latif menciptakan inovasi terbaru dengan menambahkah menu-menu baru seperti cilok kebus, ceker merecon, mie nyemek, dan masih banyak lainnya.

Bang Latif percaya dengan kerja keras, doa, kreatifitas, inovatif, dan isrikiomah pasti akan mencapai suatu kesuksesan yang inshaAllah berkah.

Alfin Jodi Kalma
Mahasiswa UNU, NTB

  • Bagikan